Catatan Singkat Kota Cirebon

0
1053

Catatan Singkat Kota Cirebon

 

Aston Hotel

Kota Cirebon, kota kang ning pinggir laut

Tapel wates jawa tengah jawa barat

 

Istana Kerang

Opening lagu itu di nyanyikan begitu lantang oleh seorang wanita paruh baya dalam acara kebudayaan kota. Wanita itu mengolah vokal dan menari sangat indah dengan balutan batik bercorak mega mendung. Sebagian pembaca mungkin tahu kalau itu adalah potongan lirik dari lagu Kota Cirebon Berintan.

 

Apa jadinya bila sebuah kota dalam dominasi yang begitu besar justru berada di pinggiran lingkunganya. Sementara yang lain lebih ke barat, kota ini justru terletak sangatlah timur (Timur Jawa Barat). Kota-kota seperti ini adalah kota yang kita kenal dengan sebutan kota perbatasan. Sebagai kota perbatasan, sudah barang tentu kota itu memiliki tradisi yang unik dan berbeda. Dalam hal ini Cirebon, Cirebon adalah kota yang tidak hanya mencoba mengawinkan budaya serta tradisi Sunda dan Jawa tetapi menyatukan pula kebiasaan bangsa Arab dan juga China.

 

Sebelum kita terlalu jauh masuk ke dalam, alangkah bijaksananya jika kita mengenal terlebih dahulu apa itu budaya dan tradisi. Dengan pengenalan ini di harapkan kita mampu untuk membedakan mana itu budaya dan apa itu tradisi. Kata budaya sendiri diambil dari bahasa sanskerta yaitu buddhayah atau bentuk lazim dari kata buddhi, yang dari situ bisa di artikan sebagai hal-hal yang erat kaitanya dengan budi serta akal manusia. Arkeolog R. Soekmono berpendapat kalau definisi dari kebudayaan adalah seluruh hasil usaha manusia, baik berupa benda ataupun hanya buah pikiran dan dalam penghidupan.

 

Setelah mengenal apa itu budaya tentunya kita masuk untuk mengenal apa itu tradisi. Tradisi berasal dari bahasa latin yaitu ‘Traditio’ yang memiliki arti terus-menerus atau kebiasaan. Tradisi dalam pengertianya berarti sesuatu yang telah dilakukan terus menerus dan melekat menjadi suatu bagian dari kehidupan kelompok masyarakat, biasanya dari kesamaan sejarah, kebudayaan, suku dan agama. Tradisi biasanya di awali dari adanya informasi yang kemudian di lanjutkan ke generasi berikutnya baik tertulis maupun lisan demi menjaga dari kepunahan.

 

Cirebon sebagai kota yang maju tentunya tidak berbeda jauh dengan Solo dan Jogja yang memiliki pemerintahan Adat sendiri. Di Solo di kenal dengan Keraton Surakarta dan Jogja dengan Keraton Jogjarta. Tidak tanggung-tanggung, di Cirebon terdapat tiga pemerintahan adat yang semuanya merupakan pecahan dari keraton utama yaitu Kraton Kasepuhan. Karena berbagai keadaan serta kepentingan maka munculah Keraton Kanoman serta Keraton Kacirbonan. Ke tiga lokasi ini tentunya sangat menarik untuk di bahas bahkan di kunjungi. Berikut profil singkat masing-masing Kraton Tersebut :

 

1.Kraton Kasepuhan

 

Sebagai pusat pemerintahan tertua di kota Cirebon, Kraton Kasepuhan tentunya memiliki nilai sejarah yang begitu luas. Kraton yang didirikan oleh Syech Syarif Hidayatullah pada tahun 1529 Masehi ini dulunya bernama Keraton Pakungwati, dengan Caruban Nagari sebagi nama kerajaanya. Nama keraton Kasepuhan sendiri muncul ketika pelantikan Sultan Sepuh I, Pangeran Samsudin Martawijaya pada tahun 1679. Keraton Kasepuhan adalah objek wisata yang dilihat dari segi sejarah serta keindahan dan filosofi bangunanya wajib di kunjungi. Di dalam Keraton Kasepuhan terdapat sebuah kereta kuno Singa Barong, tetapi kereta ini sudah di keramatkan dan hanya di keluarkan di tiap tanggal 1 Syawal untuk di mandikan.

 

2. Keraton Kanoman

 

Letaknya tidaklah terlalu jauh dari keraton Kasepuhan, mungkin hanya sekitar +600 meter ke arah utara. Keraton Kanoman memiliki keunikan serta sejarah yang berkelanjutan dari Keraton Kasepuhan. Oleh sebab itu tidaklah lengkap jika berkunjung ke Keraton Kasepuhan tanpa menyinggahi Keraton Kanoman. Keraton Kanoman berasal dari kata ‘anom’ yang berarti muda. Sesuai artinya, keraton kanoman usianya tidaklah lebih tua dari Keraton Kaepuhan. Keraton Kanoman berdiri tahun 1679 dengan Pangeran pertamanya yang bernama Pangeran Muhammad Badridin Kartawijaya. Pelantikan Pangeran Badridin sebagai Sultan Anom I lebih awal dari Pelantikan Sultan Sepuh I (Pengeran Kasepuhan) Pangeran Samsudin Martawijaya.

 

3. Keraton Kacirebonan

 

Keraton Kacirebonan memang tidaklah terlalu jelas sejarahnya. Keraton Kacirebonan memiliki design ala eropa yang tentunya berbeda dengan Keraton Kasepuhan dan Kanoman yang lebih ke jawaan. Design yang berbeda dari Kraton Kcirebonan ini konon di karenakan pembangunan Kraton ini atas turut campur Belanda. Turut campur Belanda ini bukan tanpa maksud, turut campur ini di indikasikan untuk memecah belah masyarakat Cirebon pada umunya dan Kraton Kasepuhan serta Kanoman pada intinya. Selain terkesan terpinggirkan, Keraton Kacirebonan pun terlihat tidak terurus. Yang tersisa dan terlihat masih di hargai hanyalah kursi pelaminan para sultan yang berumur kurang lebih 100 tahun.

 

Terlepas dari segala perbedaanya, Ketiga Keraton di Cirebon ternyata memiliki beberapa kesamaan. Yang pertama adalah bangunan keraton yang sama-sama menghadap ke arah utara. Yang kedua adalah adanya alun-alun yang di gunakan tempat berkumpul, latihan perajurit serta pasar. Jika kita perhatikan, yang ketiga adalah patung macan putih yang tidak lain adalah lambang Prabu Siliwangi sang penguasa Padjajajran. Selain itu, di tiga Keraton serta situs Cirebon lainya pastilah terdapat piring-piring dari Tiongkok yang konon pemberian Ratu Iong Tin istri Sunan Gunung Djati.

 

Selain pemerintahan adat yang tentunya menyumbangkan berbagai jenis kebudayaan yang begitu besar. Seperti di jelaskan dari awal, Cirebon adalah kota dimana Jawa, Sunda, Arab serta China bertemu. Karena alasan itulah tidak heran jika di Cirebon pun terdapat begitu banyak tradisi yang unik dan sayang jika kita lewatkan. Berikut adalah berbagai acara atau ritual kebudayan yang ada di Kota Cirebon :

 

1. Muludan

 

Muludan sesuai namanya di laksanakan setahun sekali dalam hitungan tahun Hijriah. Tepatnya pada tanggal 8 sampai dengan 12 mulud. Muludan bertujuan mengenang kembali hari lahirnya Nabi Besar Muhammad SAW. Acara puncaknya dikenal dengan nama Pnajng Jimat. Selain kegiatan sakral dalam keraton, muludan pun menyediakan pasar malam yang biasa di mulai sebulan sebelum tanggal 12 mulud.

 

2. Nadran

 

Nadran atau yang biasa kita kenal dengan sebutan pesta laut, terdapat pula di Kota Cirebon. Nadran bertujuan untuk keselamatan dan penghargaan tertinggi terhadap Sang Pencipta yang telah memberikan rezekynya berupa hasil laut. Nadran ini di lakukan dengan waktu yang tidak di tentukan dan berbeda-beda setiap daerah.

 

3. Adzan Tujuh

 

Tepat di hadapan Keraton Kasepuhan terdapatlah Masjid, yang dikenal dengan Masjid Agung sang cipta rasa. Di Masjid ini terdapat satu keunikan yang mungkin tidak akan di temukan di masjid manapun di dunia ini. Setiap Sholat Jum’at, Masjid ini selalu di Adzani oleh tujuh orang pria dewasa pilihan.

 

4. Syawalan Gunung Jati

 

Mengapa di sebut syawalan, karena rutinitas ini biasanya di lakukan setiap awal bulan syawal atau tepatnya setelah bulan puasa. Pada awal-awal bulan Syawal masyarakat wilayah Cirebon umumnya melakukan ziarah ke makam Sunan Gunung Jati. Selain mencoba mengenang kembali dan berdoa di samping makam, adapula yang datang untuk melakukan tahlilan.

 

Tradisi ini konon telah berlangsung begitu lama dan akhirnya turun-temurun hingga saat ini.

 

5. Rajaban

 

Upacara dan ziarah ke makam Pangeran Panjunan dan Pangeran Kejaksan di Plangon. Umumnya dihadiri oleh para kerabat dari keturunan dari kedua Pangeran tersebut. Dilaksanakan setiap 27 Rajab. Terletak di obyek wisata Plangon Kelurahan Babakan Kecamatan Sumber kurang lebih 1 Km dari pusat kota Sumber.

 

6. Ganti Sirap

 

Ganti Sirap atau bila di artikan kedalam bahasa Indonesia menjadi mengganti kepingan papan tipis yang terbuat dari ulin. Upacara ini umumnya dilaksanakan setiap empat tahun sekali di makam kramat Ki Buyut Trusmi. Kegiatan inti dalam acara ini adalah mengganti atap makam yang menggunakan Sirap. Untuk memeriahkan acara Ganti Sirap, biasanya panitia mengundang pula pertunjukan wayang Kulit dan Terbang.

 

Mengupas dan menikmati keindahan sebuah Kota memang tidaklah lengkap tanpa mengenal Sejarah, tradisi dan budayanya. Penjelasan singkat ini di harapkan menjadi bahan pertimbangan serta masukan ilmu yang sangat berarti bagi pembaca. Dari penjelasan di atas pula di harapkan pembaca tergugan dan semakin tahu bahwa Kota Cirebon memiliki sejarah serta hal-hal menarik yang mewajibkan siapapun untuk senantiasa mengunjunginya.