Bincang Muslimah Kota Wali Gelar Zoom Meeting Bersama Generasi Muda Cirebon Raya

Cirebon,- Acara Bincang Muslimah Kota Wali terselenggara pada Ahad, (31/07/2022) via Zoom Meeting yang dihadiri sekitar 80 peserta dari para pelajar, mahasiswa dan tokoh Cirebon Raya. Acara ini bertema “Generasi Muda Cirebon Raya, Yuk Hijrah Menuju Islam Kaffah!” dengan menghadirkan dua narasumber yaitu Robi’atul ‘Adawiyah (Duta Genre Kabupaten Cirebon) dan Choridatul Jannah, S.Pi (Motivator Milenial).

Narasumber pertama menjelaskan seputar “Generasi Muda Cirebon Raya dalam Pusaran Arus Liberalisasi Sosial Budaya”. Menurut beliau liberalisasi life style yang terjadi pada generasi muda merupakan sebuah perilaku beresiko atau pergaulan bebas. Perilaku ini akan membahayakan dirinya baik fisik maupun mental yang berlangsung dalam jangka panjang. Berikutnya akan lahir generasi perokok, penyalahgunaan narkoba, peminum alkohol, dan pergaulan bebas. Beliau mengungkapkan beberapa kasus yang ditemukan di daerah Cirebon seperti kasus gadis anak yatim yang digagahi sampai hamil, pelajar yang tawuran di depan kantor polisi, dan pernikahan dini yang menimbulkan masalah.

Pembicara menjelaskan bahwa perilaku beresiko ini dipengaruhi oleh 3 faktor yaitu Pertama, Predisposing yaitu motivasi dalam diri sendiri. Kedua, Enabling yaitu faktor pendorong diantaranya lingkungan. Ketiga, Reinforcing yaitu faktor penguat, seperti dari orang tua. Lalu apa yang dapat dilakukan untuk menangkal perilaku buruk ini?

BACA YUK:  Inilah Kegiatan Inspiratif Mamat Rahmatullah yang Bermanfaat bagi Orang Lain

“Kuncinya adalah mengenal konsep diri. Karena konsep ini yang akan mempengaruhi seseorang dalam berperilaku. Konsep ini terbentuk pada masa remaja. Konsep diri terdiri dari 3 komponen yaitu Self Image (mengenali diri sendiri), Self Esteem (menghargai diri sendiri) dan Ideal self (keinginan/target yang ingin diwujudkan). Ketika banyak remaja yang berperilaku berisiko bisa jadi mereka belum memiliki konsep diri. Oleh karena itu penting untuk membentuk konsep diri pada generasi muda,” papar beliau.

Beliau mengajak kepada semua generasi muda untuk mewujudkan konsep diri yang positif dengan obyektif memandang diri sendiri, appreciate yourself atau menghargai diri sendiri, jangan marah pada diri sendiri, dan senantiasa berpikir positif. Dan berharap semoga konsep diri positif ini dapat menghindarkan generasi dari perilaku beresiko.

Acara semakin hangat dengan penjelasan narasumber kedua tentang “Pemuda Islam Dalam Skenario Pelemahan Dan Pembajakan Potensi”. Beliau menyampaikan bahwa generasi Muslim itu memiliki potensi dan profil yang khas dan istimewa dalam Islam. Hanya saja saat ini potensi dan profil generasi cemerlang itu sedang di bajak oleh paham-paham liberalisme, sekulerisme yang bertentangan dengan Islam, hingga menyebabkannya menjadi suram. Generasi muda dalam Islam memiliki potensi untuk menjadi generasi pengubah peradaban dan pemimpin kebangkitan.

BACA YUK:  Pengurus Asosiasi Arsiparis Indonesia Kota Cirebon Dikukuhkan

Beliau juga menggambarkan profil generasi Islam menurut Al-Quran yaitu sebagai hamba Allah, pemimpin bertakwa, memiliki kepribadian yang lurus sesuai fitrah, tangguh, kuat dan berkualitas, serta penegak amar makruf nahi munkar. Dengan profil dan potensi yang cemerlang inilah lahir generasi-generasi besar pada masa kegemilangan peradaban Islam, seperti Muhammad bin Qasim Ats Tsaqafi (pemimpin pasukan perang di usia muda), Muhammad bin Idris Asy Syafi’i (ulama besar pada usia muda), Abdurrahman Ad Dakhil (menjadi raja di usia muda), Harun Ar Rasyid (memimpin pasukan di usia 15 tahun). Tak luput juga para Muslimah hebat pengukir peradaban.

Namun saat ini justru yang terjadi adalah sebaliknya yaitu generasi muda yang rapuh, rusak, lemah, dan tidak berkualitas yang jauh dari kemuliaan. Bahkan mereka menjadi generasi kriminal, trouble maker, pelaku dan penebar kerusakan. Sebagian hingga menjadi generasi buruh, dan agen perusak umat dan agamanya sendiri.

BACA YUK:  Polres Cirebon Kota Kembali Gencarkan Vaksinasi COVID-19 Dosis Ketiga

Sungguh sangat menyedihkan memandang potret generasi seperti ini. Padahal mereka adalah generasi yang mendominasi jumlah penduduk negeri ini yaitu generasi milenial dan generasi z yang sering disebut bonus demografi bagi kaum muslimin. Bonus demografi ini sejatinya dapat mendatangkan keuntungan namun jika tidak terkelola akan membawa kerugian.

Mendatangkan keuntungan diantaranya dapat mendongkrak kualitas negeri di berbagai lini, khususnya perekonomian dengan syarat memiliki kualitas diri. Mendatangkan kerugian jika menjadi sumber daya manusia yang tak memiliki kualitas. Terlebih yang sangat dikhawatirkan adalah bonus demografi ini dapat dimanfaatkan oleh negara asing demi kepentingan materi semata.

Oleh karena itu wajib ada upaya untuk menyelamatkan generasi muda ini. Beliau mengajak kepada semuanya agar menjadi Muslim yang melaksanakan Islam secara Kaffah sehingga bisa menjadi agen perubahan. Agen yang akan mengubah kondisi buruk menjadi kondisi cemerlang dengan membentuk generasi muda dengan Islam kaffah. (Ummu Rumaisya)

 

(Dilihat: 47 pengunjung)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.