Berkat Yayasan Harapanku, Cici Tak Lagi Menggendong Anaknya

Cirebon,- Penyakit Osteogenesis Imperfecta (OI) yang diderita Chilvi Agnora Bela (11 tahun) diketahui sejak usianya 11 bulan. Hal tersebut membuat Cici Zubaedah sebagai seorang ibu merasa rapuh. 

Hari demi hari terus dilalui Cici untuk membesarkan Chilvi. Dengan penuh semangat dan ketelatenan, Cici melakukan untuk terus memberikan yang terbaik kepada anaknya, membuatnya nyaman dan riang gembira.

Beruntung, Chilvi yang merupakan anak ke-2 dari 3 bersaudara tersebut memiliki kepribadian periang, sehingga tak membuat Cici khawatir akan perbedaan yang dialami oleh Chilvi. Meski terkadang Cici merasa kasihan ketika anaknya tidak bisa ikut bermain layaknya anak-anak normal lainnya.

“Saya bisa sekuat ini karena Chilvi punya semangat yang kuat untuk belajar, dia gak pernah minder sama teman-temannya, malah saya yang suka nangis kalau anak saya tidak bisa bermain seperti temannya yang lain,” jelasnya.

Sehari-harinya, Cici hanya bertugas sebagai ibu rumah tangga. Kegiatannya mengantar dan menemani Chilvi ke sekolah, serta mengurus anak pertama dan anak bungsunya yang masih berusia 2 tahun. Aktivitas suaminya bekerja serabutan, dan mereka tinggal di kontrakan kecil di Jakarta. Mereka sebenarnya asli Malang, yang tinggal dan mencari rezeki di ibu kota.

BACA YUK:  Astra Financial Terus Memperkuat Ekosistem Keuangan yang Terintegrasi Secara Digital

Sejak kecil, Chilvi terbiasa digendong kemana-mana. Namun saat ini Chilvi bertambah besar, semakin berat pula bobot yang digendong oleh Cici. Apalagi Chilvi sekolah di ruangan kelas lantai 2.

“Kemanapun Chilvi mau pergi, saya selalu menggendongnya, dari kecil sampai sekarang sudah 11 tahun. Alhamdulillah masih kuat, kalau mau jajan saya gendong, ke sekolah juga saya gendong, sampai naik tangga ke lantai 2,” papar Cici kepada About Cirebon hingga meneteskan air mata. 

Bukan suatu penderitaan bagi Cici dengan menggendong Chilvi setiap saat. Dia mengatakan bahwa apapun itu, akan dilakukan olehnya demi kebahagiaan anaknya. Chilvi diakuinya adalah anak yang rajin, pintar, dan murah senyum. 

BACA YUK:  Sidak Lokasi Program Kotaku, Komisi II DPRD Kota Cirebon Dapat Keluhan dari Warga

Bahkan Chilvi pernah mengutarakan, bercita-cita sebagai dokter.

Keterbatasan yang dimiliki Chilvi mengharuskannya selalu berobat. Namun, Cici mengatakan efek dari obat tersebut, membuat Chilvi semakin berkurang fungsi indra pendengarannya. Bahkan kulitnya pun mengalami perubahan seiring berjalannya waktu. Kaki Chilvi pun diakuinya menjadi lebih panjang sebelah.

“Saya selalu berharap dan berdoa, mudah-mudahan ada keajaiban di depan sana. Selalu dibukakan kemudahan lewat jalan yang tidak terduga,” harapnya.

Chilvi yang saat ini kelas 6 SD, akan menghadapi SMP. Masa peralihan jenjang studi baru. Cici berharap bisa menyekolahkan Chilvi di tempat yang diinginkannya dengan proses dan jalan yang tidak memberatkan.

Beberapa bulan lalu, Chilvi mendapatkan informasi dari media sosial dan internet tentang pemberian kursi roda dari Yayasan Harapanku.

 Chilvi memberitahu ibunya dan mendaftarkan diri sebagai penerima bantuan dengan mengumpulkan syarat yang ditentukan.

BACA YUK:  Jangan Remehkan Komorbid: Lakukan Pemeriksaan Kesehatan & Miliki Asuransi

“Saya gak tahu apa-apa, tapi Chilvi pintar mencari informasi tentang bantuan kursi roda elektrik, karena memang dari dulu dia pengen banget kursi roda elektrik,” jelasnya.

Cici dan Chilvi pun bersemangat. Hingga akhirnya ditetapkan sebagai penerima bantuan dari Yayasan Harapanku. Kemudian, tepat di hari Sabtu, 20 Oktober 2018, Cici dan Chilvi hadir ke Cirebon, menerima bantuan tersebut dari Yayasan Harapanku di sela-sela acara Wisuda Kampus STMIK CIC Cirebon.

“Saya bersyukur dan sangat senang dengan bantuan ini. Karena, Chilvi ingin berjalan sendiri, mengendalikan sendiri menggunakan kursi roda kemanapun dia pergi. Terimakasih Yayasan Harapanku,” tambahnya.

Cici bertekad bahwa sisa hidupnya ingin terus membahagiakan Chilvi dan anak-anaknya yang lain. Semua perjuangan yang dilakukan yaitu demi anak dan keluarga. Karena baginya, sekuat-kuatnya manusia, tidak akan ada yang sempurna. (AC560)

(Dilihat: 35 pengunjung)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.