Begini Tradisi Tawurji di Keraton Kanoman Cirebon

0
158

Cirebon,- Keraton Kanoman Cirebon menggelar tradisi Tawurji, yang berlangsung di Bangsal Prabayaksa, Keraton Kanoman Cirebon, Rabu (7/11/2018).

Tradisi tersebut, sudah ada sejak era Wali Songo dan keberlangsungan tradisi tawurji tidak lepas dari pengaruh ajaran Islam dan misi Islamisasi pada saat itu.

Aston Hotel

Ratu Raja Arimbi Nurtina, selaku Juru Bicara Keraton Kanoman Cirebon mengatakan Tawurji berasal dari kata Tawur yang artinya memberi dan Ji merupakan sebutan bagi orang yang mampu, biasanya dengan kata singkatan dari Pak Haji atau orang yang mampu.

“Jadi, Tawurji yaitu orang-orang yang mampu bersedekah. Biasanya diberikan secara langsung kepada yang patut diberikan,” ujarnya kepada About Cirebon.

Lanjut Ratu, Tradisi Tawurji diperingati setiap hari Rabu Wekasan, yang artinya Rabu Pamungkas di bulan Safar. Karena, mempunyai nilai kekeramatan dan kepercayaan akan turunnya ribuan musibah.

“Sehingga dengan kita bersodaqoh, kita berharap dan kita memohon kepada Allah SWT, mudah-mudahan dihindarkan dari bencana, baik keluarga keraton maupun masyarakat secara umum,” ungkapnya.

Menurut salah satu cerita yang berkembang, kata Ratu, di lingkungan Keraton Kanoman, tradisi Tawurji bermula dari upaya perlindungan murid-murid Syekh Lemah Abang yang dianggap sesat disertai nasih mereka yang terlunta-lunta. Sehingga, oleh Sunan Gunung Jati, mereka dilindungi dengan memberikan uang koin sebagai bekal untuk bertahan hidup.

“Peristiwa itu tepat pada hari Rabu terakhir dibulan Safar, dan pada hari itu juga bebarengan dengan tradisi ritual di Bangsal Paseban Keraton Kanoman Cirebon dengan memanjatkan doa kepada Allah SWT dan tawasul kepada para wali dan leluhur raja-raja Keraton Kanoman,” terangnya.

Pantauan About Cirebon, tradisi Tawurji diawali dengan berkumpulnya para pinengeran dan abdu dalem di Pendopo Djinem sebari menunggu Sultan Raja Muhammad Emurudi, Sultan Kanoman XII.

Setelah Sultan keluar dari kediamannya, Sultan langsung membawa kotak yang berisi uang koin yang sudah didoakan dan langsung dibagikan kepada masyarakat dan abdi dalem dengan cara surak.

Usai melakukan Tradisi Tawurji atau surak, acara dilanjut dengan tradisi ngapem. Acara ngapem dilakukan dengan memanjatkan doa di Bangsal Djinem, kemudian dibagikan apem secara sukarela. (AC212)