Asah Keterampilan Memasak dengan Mengikuti Food Literacy di Perpustakaan 400

0
33

Cirebon,- Pengertian Literasi bukan hanya sekedar membaca saja, Food Literacy juga termasuk didalamnya. Perpustakaan juga sebagai gudang ilmu, karena memiliki banyak buku menjadi wadah untuk menambah pengetahuan masyarakat.

“Kelas kuliner ini adalah bagian dari pengembangan program literasi, yaitu ada yang namanya food literacy,” ungkap penggagas Food Literacy di Perpustakaan Umum Daerah 400 Kota Cirebon.

Aston Hotel

Kegiatan ini berlangsung hari Rabu, (10/10/2018), dengan peserta mencapai 70 orang dari berbagai wilayah di Cirebon. Dengan antusias yang begitu bagus, ini menandakan bahwa minat masyarakat untuk mengenal food literacy pun sangat baik.

“Bagi saya, pengertian literasi itu luas banget. Food literacy menyangkut pengetahuan tentang makanan juga kemampuan untuk menambah ketrampilan dan menambah wawasan tentang suatu resep atau menu. Bagaimana membaca resep dan mengaplikasikannya dengan praktek secara langsung,” papar Lismah.

Kegiatan ini adalah food literacy yang kedua diadakan di Perpus 400. Lismah bekerja sama dengan Rose Brand yang memiliki produk berbahan dasar tepung beras. Rencananya, kegiatan food literacy ini akan diadakan rutin dalam setiap bulannya.

Istana Kerang

“Antusiasme masyarakat sangat bagus, Kebanyakan ibu-ibu sangat luar biasa, bahkan sebelum jam pelaksaan masih ada yang minta ikutan, padahal kuota sudah penuh,” terangnya.

Dengan demikian, kedepannya jika berminat untuk mengikuti food literacy, bisa mendaftarkan diri ke bagian Perpus 400. Lismah ingin kegiatan berjalan dengan lancar, sesuai dengan kuota yang ideal, sehingga tetap berjalan dengan kondusif.

Para peserta hanya membayar Rp10 ribu, mendapatkan produk Rose Brand, dua resep berbahan dasar tepung beras dan satu minuman buah atau sayur.

“Konsepnya demo masak, audien bisa get involved pas membentuk kue. Kemarin kami buat kue moci isi kacang dan kue kering telur gabus keju,” ungkapnya.

Tim Rose brand mempraktekkannya langsung, dan peserta melihat prosesnya mulai dari mencampur, menguleni hingga jadi. Para peserta juga bisa mencoba membentuk adonan jika ingin berpartisipasi.

“Banyak tips-tips pengetahuan seputar proses pembuatannya agar berhasil, ada penjelasan ilmiahnya juga semisal kenapa sih kue atau bolu gak mengembang sempurna? Kenapa sih gak boleh terlalu lama diuleni atau ukurannya kenapa harus sesuai takaran? Dan lainnya,” jelas Lismah.

Tujuannya akhirnya Lismah dan tim Rose Brand berharap para ibu bisa membuat kue yang enak dan cantik, dan bisa dipasarkan sehingga bisa menjadikan kue sebagai usaha sampingan di rumah.(AC560)