3 – 6 Desember, Festival International Gotrasawala Siap Digelar di Cirebon

Cirebon, 2 Desember 2014,- Sejarah kerajaan-kerajaan di Nusantara sejak dulu umumnya hanya bercerita tentang kekuasaan dan kejayaan sebuah negeri dalam bentuk kebesaran wilayah. Jarang sekali terdengar cerita bagaimana seorang tokoh intelektual menyumbangkan sesuatu yang penting bagi kerajaan dan masyarakat mereka dalam konteks ‘akademik’. Oleh sebab itu, nilai dan kegiatan akademik dalam konteks sejarah Indonesia selalu di asosiasikan dengan budaya Erop yang datang melalui proses penjajahan. Secara historis gejala ini sebenarnya bisa dimengerti melalui 3 perspektif:

 

  • 1. Pendekatan akademik dalam konteks budaya Asia
  • 2. Masyarakat kolonial Belanda sebelum menginjak masa memiliki sebuah paradigma yang berbeda dengan paradigma akademik yang di kembangkan di Eropa pada Masa Pencerahan di abad ke 17. Oleh sebab itu, kegiatan intelektual seperti halnya penulisan sejarah (babad) di Jawa, lebih di anggap sebagai kegiatan sastra, bukan kegiatan akademik oleh disiplin ilmiah Barat yang masih mendominir tatacara kehidupan intelektual dunia hingga pada masa kini.
    pertengahan abad ke 19 adalah bangsa yang belum memiliki minat terhadap masalah akademik maupun kebudayaan secara serius. Adalah bangsa Inggris yang dipimpin oleh Thomas Stamford Raffles yang untuk pertama-kalinya menggembangkan kegiatan intelektual dalam lingkungan masyarakat kolonial Belanda maupun Indonesia pada masa British

 

  • 3. Oleh sebab itu, segala kegiatan ‘akademik’ yang terjadi Interregnum di tahun 1811-1816. Setelah itu baru gelombang besar masyarakat kolonial Belanda kedua yang baru datang dari negerinya tertarik untu meneruskan kehidupan intelektual yang di warisi dari bangsa Inggris di pulau Jawa. di dalam lingkungan masyarakat Indonesia, seperti halnya konferensi internasional Gotrasawala yang erjadi di Kesultanan Cirebon pada abad ke 17 tidak tercantum dalam catatan harian (dagh register) pemerintah kolonial Belanda yang hanya dipenuhi oleh transaksi perdagangan.

 

Surat kabar Belanda Bataviasche Koloniale Courant baru untuk pertama-kalinya terbit di pulau Jawa pada tahun 1810 pada saat pemerintahan Dandaels yang sebenarnya mewakili kekuasaan Napoleon di Perancis. Dalam konteks inilah Gotrasawala II di tahun 2014 ini mengangkat tema Revisiting Cirebon in the 17th Century, suatu masa di kota Cirebon yang mencatat adanya sebuah perhelatan ‘akademik’ dan budaya berjudul GOTRASAWALA, yaitu pertemuan para ahli sejarah dan budayawan dari seluruh Nusantara plus negara-negara di Asia seperti Trengganu, Malaka dan Tumasik (Singapura), Mesir, Arab, India , Srilangka, Benggala, Campa, Cina, dan Ujung Mendini (Semenanjung Malaysia).

 

Dengan tema di atas Gotrasawala II di tahun 2014 ini akan memberikan fokus yang khusus kepada Cirebon sebagai sebuah entitas sejarah dan senibudaya yang memiliki kekhasan tersendiri dalam konteks wilayah Jawa Barat yang sangat luas dan majemuk.

 

Seperti pada Gotrasawala I di tahun 2013 yang lalu, Gotrasawala II juga akan memiliki dua program besar, yaitu:

  • 1. Konferensi dengan 2 buah topik: “Revisiting Gotrasawala in 17th Century Cirebon” dan “West Javanese Arts: Past, Present and Future” (sebuah tema yang akan selalu muncul sebagai kesinambungan Gotrasawala).
    Konferensi ini akan berlangsung selama 3 hari, yaitu dari tanggal 4-6 September dan akan diikuti oleh para ahli sejarah dan senibudaya Indonesia baik dari negara-negara Australia, Eropa, Amerika maupun Asia. Tokoh akademik yang akan menjadi keynote speakers kali ini adalah Professor Taufik ABdullah seorang sejarahwan senior di Indonesia.

 

  • 2. Festival kesenian Jawa Barat yang juga bertema: Past, Present dan Future. Kegiatan festival ini juga akan di bagi menjadi 2 bagian besar, yaitu :
    (a) Main Festival yang akan menyajikan pelbagai pertunjukkan kesenian klasik dan kontemporer Cirebon dan Jawa Barat, plus kesinambungan kerjasama para seniman Jawa Barat dengan seniman-seniman dari Eropa
    (musik) dan Amerika (tari dan teater) di ruang-ruang pertunjukkan formal, dan (b) Fringe Festival yang akan menyajikan pelbagai seni pertunjukkan rakyat Jawa Barat pilihan, baik yang tradisional maupun kontemporer di beberapa lokasi non-formal di kota Cirebon. Festival kesenian ini akan berlangsung pada tanggal 4-7 September di seluruh kota Cirebon.

 

  • 3. Festival film etnografi Jawa Barat yang akan di awali oleh workshop selama 4 hari pada tanggal 16-19 Juli 2014 di Kampung Budaya Sindang Barang (Bogor). Instruktur workshop adalah sutradara film etnografi kelas dunia Lawrence Blair (Ring of Fire), Tino Sarunggalo (Manajer Produksi “Eat, Pray and Love”) dan Aqni Ariatama (Penata Kamera khusus film dokumenter). Dari para peserta workshop ini akan di pilih 3 grup pembuat film yang akan di berikan dana 50 juta per grup untuk membuat produksi film etnografi dengan tema khusus tentang sejarah dan kehidupan budaya Jawa Barat.
    Festival film etnografi ini juga akan menyajikan film-film penting tentang Jawa Barat dan Indonesia dimasa kolonial yang tersimpan di Dutch National Film Archive. Disamping itu masih akan ada kompetisi film etnografi se Jawa Barat yang akan memilih 7 nominasi film terbaik dengan hadiah masing-masing 7 juta dan sebuah film terbaik dengan hadiah 50 juta.

 

Adapun tujuan utama dari Gotrasawala ini adalah untuk mengangkat seluruh kekayaan sejarah dan budaya Jawa Barat menjadi bagian dari dinamika perkembangan budaya dunia di abad ke 21.

 

Selain itu, Gotrasawala juga akan memperkuat posisi Jawa Barat menjadi salah satu wilayah tujuan wisata utama di Indonesia yang dapat menyajikan kekayaan sejarah dan budayanya kepada turis mancanegara seperti yang sudah terbukti pada masa-masa lalu. (AC400/rls)

BACA YUK:  Ratusan Bidan dan Perawat di Wilayah Cirebon Ikuti Seminar Kesehatan Deteksi Dini PPCM

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *